Hasanah619's Blog

Januari 4, 2010

PENILAIAN STATUS GIZI SECARA BIOKIMIA

Filed under: Penilaian Status Gizi — Tag: — hasanah619 @ 6:46 pm

PENILAIAN STATUS ZAT BESI

Ada beberapa indikator laboratorium untuk menentukan status besi yaitu:

–       Hemoglobin (Hb)

–       Hematokrit

–       Besi serum

–       Ferritin serum (Sf)

–       Transferrin saturation (TS)

–       Free erytrocytes protophophyrin (FEP)

–       Unsaturated iron-binding capacity serum

1. Hemoglobin (Hb)

Hemoglobin adalah parameter yang digunakan secara luas untuk menetapkan prevalensi anemia. Garby et al, menyatakan bahwa penentuan status anemia yang hanya menggunakan kadar Hb ternyata kurang lengkap, sehingga perlu ditambah dengan pemeriksaan yang lain.

Hb merupakan senyawa pembawa oksigen pada sel darah merah. Hemoglobin dapat diukur secara kimia dan jumlah Hb/100 ml darah dapat digunakan sebagai indeks kapasitas pembawa oksigen pada darah. Kandungan hemoglobin yang rendah dengan demikian mengindikasikan anemia. Bergantung pada metode yang digunakan, nilai hemoglobin menjadi akurat samapai 2-3%. Metode yang lebih dulu dikenal adalah metode Sahil yang menggunakan teknik kimia dengan membandingkan senyawa akhir secara visual terhadap standar gelas warna. Ini memberi 2-3 kali kesalahan rata-rata dari metode yang menggunakan spektrofotometer yang baik.

Nilai normal yang paling sering dinyatakan adalah 14-18 gm/100 ml untuk pria dan 12-16 gm/100 ml untuk wanita (gram/100 ml sering disingkat dengan gm% atau gm/dl). Beberapa literatur lain menunjukan nilai yang lebih rendah, terutama pada wanita, sehingga mungkin pasien tidak dianggap menderita anemia sampai Hb kurang dari 13 gm/100 ml pada pria dan 11 gm/100 ml untuk wanita.

Metode

Diantara metode yang paling sering digunakan di laboratorium dan paling sederhana adalah metode Sahli, dan yang lebih canggih adalah metode cyanmethemoglobin.

Pada metode sahli, hemoglobin dihidrolisis dengan HCL menjadi globin ferroheme. Ferroheme oleh oksigen yang ada di udara dioksidasi menjadi ferriheme yang segera bereaksi dengan ion Cl membentuk ferrihemechlorid yang juga disebut hematin atau hemin yang berwarna coklat. Warna yang terbentuk ini dibandingkan dengan warna standar (hanya dengan mata telanjang). Untuk memudahkan perbandingan, warna standar dibuat konstan, yang diubah adalah warna hemin yang terbentuk. Perubahan warna hemin dibuat dengan cara pengenceran sedemikian rupa sehingga warnanya sama dengan sangat berpengaruh. Disamping faktor mata, faktor lain, misalnya ketajaman, penyinaran dan sebagainya dapat mempengaruhi hasil pembacaan.

Meskipun demikian untuk pemeriksaan di daerah yang belum mempunyai peralatan canggih atau pemeriksaan di lapangan, metode sahil ini masih memadai dan bila pemeriksanya telah terlatih hasilnya dapat diandalkan.

Metode yang lebih canggih adalah metode cyanmethemoglobin. Pada metode ini hemoglobin dioksidasi oleh kaliumferrosianida menjadi methemoglobin yang kemudian bereaksi dengan ion sianida (CN2-) membentuk sian-methemoglobin yang berwarna merah. Intensitas warna dibaca dengan fotometer dan dibandingkan dengan standar. Karena yang membandingkan alat elektronik, maka hasilnya lebih objektif. Namun, fotometer saat ini masih cukup mahal, sehingga belum semua laboratorium memilikinya.

Mengingat hal diatas, percobaan denga metode sahli masih digunakan disamping metode cyanmethemoglobin yang lebih canggih.

a.  Prosedur pemeriksaan denga metode sahli

Reagensia :

–       HCl 0,1 N

–       Aquadest

Alat/sarana:

–       Pipet hemoglobin

–       Alat sahli

–       Pipet pastur

–       Pengaduk

Prosedur kerja

–       Masukan HCl 0,1 N ke dalam tabung sahli sampai angka 2.

–       Bersihkan ujung jari yang akan diambil darahnya menggunakanlarutan desinfektan (alkohol 70%, betadin dansebagainya), kemudian tusuk dengan lancet atau alat lain.

–       Isap dengan pipet hemoglobin sampai melewati batas, gbersihkan ujung pipet, kemudian teteskan darah samapai ketanda batas denga cara menggeserkan ujung pipet ke kertas saring/kertas tisu.

–       Masukan pipet yang berisi darah kedalam tabung hemoglobin, samapi ujung pipet menempel pada dasar tabung, kemudian tiup pelan-pelan. Usahakan agar tidak timbukl gelembung udara. Bilas sisa darah yang me nempel pada dinding pipet dengan cara mengisap HCl dan meniupnya lagi sebanyak 3-4 kali.

–       Campur sampai rata dan diamkan selam kurang lebih 10 menit.

–       Masukan ke dalam alat pembanding, encerkan dengan aquades tetes demi mtetes sampai warna larutan (setelah diaduk samapai homogen) sama denga warna gelas dari alat pembanding. Bila sudah sama, baca kadar hemoglobin pada skala tabung.

b.  Prosedur pemeriksaan dengan metode cyanmethemoglobin

–       Larutan kalium ferriosianida (K3Fe(CN)6 0,6 mmol/l

–       Larutan kalium sianida (KCN) 1,0 mmol/l

Alat/sarana:

–       Pipet darah

–       Tabung cuvert

–       Kolorimeter

Prosedur kerja :

–       Masukan campuran reagen sebanyak 5 ml ke dalam cuvert.

–       Ambil darah kapiler seperti pada metode sahil sebanayak 0,02 ml dan masukan ke dalam cuvert di atas, kocok dan diamkan selama 3 menit.

–       Baca dengan kolorimeter pada lambda 546.

Perhitungan:

Kadar Hb = absorpsi x 36,8 gr/dl/100 ml

Atau

Kadar Hb = absorpsi x 22,8 mmol/l

2. Hematokrit (HCT)

Hematokrit adalah volume eritrosit yang dipisahkan dari plasma dengan cara memutarnya di dalam tabung khusus yang nilainya dinyatakan dalam persen (%). Setelah sentrifugasi, tinggi kolom sel merah diukur dan dibandingkan dengan tinggi darah penuh yang asli. Persentase massa sel merah pada volume darah yang asli merupakan hematokrit. Darah penuh antikoagulasi disentrifugasi dalam tabung khusus. Karena darah penuh dibentuk pada intiselnya oleh sel darah merah (SDM) dan plasma, setelah sentrifugasi persentase sel-sel merah memberikan estimasi tidak langsung jumlah SDM/100 ml dari darah penuh (dan dengan demikian pada gilirannya merupakan estimasi tidak langsung jumlah hemoglobin). Hematrokrit dengan demikian bergantung sebagian besar pada jumlah SDM. tapi ada beberapa efek (dalam hal jauh lebih sedikit) dari ukuran rata-rata SDM. nilai normal adalah 40%-54% untuk pria dan 37%-47% untuk wanita. HCT biasanya hampir 3 kali nilai Hb (dengan menganggap tidak terdapat tanda hipokromia). Kesalahan rata-rata pada prosedur HCT yaitu kira-kira 1-2%.

3. Serum Besi

Prosedur serum iron. Darah harus dikumpulkan menggunakan tabung terevakuasi bebas elemen tembusan. Hanya air terdeionisasi terdistilasi yang harus digunakan.

–       Berilah label tabung uji dengan blanko, standar, referensi, pool, dan subjek test masing-masing

–       Tambahkan 2.5 ml reagen penyangga besi pada masing-masing tabung

–       Pada tabung berblangko tambahkan 0.5 ml standar besi. Pada referensi tambahkan 0.5 ml bahan referensi besi serum. Pada pool tambah dengan 0.5 ml serum pooled. Untuk masing-masing subjek uji, tambahkan 0.5 ml serum pada tabung yang cocok.

–       Campurkan masing-masing tabung uji secara  merata dengan vortex mixer

–       Pindahkan masing-masing sampel pada sebuah cuvet.

–       Pasang pada panjang gelombang 560 nm. Nolkan spektofotometer pada penyerapan nol dengan blanko reagen.

–       Baca dan catat penyerapan awal sampel blanko, standar, referensi dan uji. Kembalikan sampel-sampel itu pada tabung yang sesuai setelah dilakukan pembacaan. Ini merupakan penyerapan awal (Ainitial) yang diukur agar dilakukan pertimbangan mengenai pebedaan-perbedaan dalam turbiditas sampel.

–       Tambahkan 0.05 ml reagen warna besi pada masing-masing tabung. Campur masing-masing tabung dan biarkan beridri selama kira-kira 10 menit dalam air pada 370 C

–       Pindahkan isi masing-masing tabung pada cuvet

–       Baca lagi dan catat penyerapan sampel blanko, standar, referensi, pool, dan uji menggunakan blanko untuk membuat nol penunjukan spektrofotometer. Ini merupakan penyerapan akhir (Afinal).

Perhitungan hasil

Jika standar besi berisi 500 µg/dl, konsentrasi besi serum (µg/dl) dari sampel dihitung dengan menggunakan rumus berikut:

Faktor konversi pada satuan (µmol/L) = x 0,179.

4. Transferrin saturation (TS)

Penentuan kadar zat besi dalam serum merupakan satu cara menentukan status besi. Salah satu indikator lainya adalah Total Iron binding capacity (TIBC) dalam serum. Kadar TIBC ini meningkat pada penderita anemia. Karena kadar besi di dalam serum menurun dan TIBC meningkat pada keadaan defisiensi besi maka rasio dari keduanya (transferrin saturation) lebih sensitif.

Rumus tersebut adalah sebagai berikut:

Apabila TS > 16 %, pembentukan sel-sel darah merah dalam sumsum tulang berkurang dan keadaan ini disebut defisiensi besi untuk eritropoiesis.

5. Free erythrocyte protophorphyrin (FEP)

Apabila penyediaan zat besi tidak cukup banyak untuk pembentukan sel-sel darah merah di sumsum tulang maka sirkulasi FEP di darah meningkat walaupun belum nampak anemia. Dengan menggunakan fluorometric assay, maka penentuan FEP lebih cepat digunakan. Satuan untuk FEP dinyatakan dalam µg/dl darah atau µg/dl darah merah. Dalam keadaan normal kadar FEP berkisar 35 ± 50 µg/dl RBC tetapi apabila kadar FEP dalam darah lebih besar dari 100 µg/dl RBC menunjukkan individu ini menderita kekurangan besi.

Prosedur free erythrocyte protoporphyrin

  1. Tekan tombol “ON” pada henatofluorometer dan sisipkan blank glass cover slip ke dalam pemegang sampel.
  2. Tekan tombol “MEASURE” dan catat pembacaan pda blank glass cover slip. Gunakan hanya blank cover slip dengan pembacaan dari 000-006.
  3. Gunakan pipet pasteur plastik untuk menempatkan setetes darah penuh (kira-kira 20 µL) di atas blank cover slip denga cara menyebarkannya, sehingga berhubungan pada posisi lubang.
  4. Tekan tombol “MEASURE” dan catat pembacaan. Jangan subtraksikan pembacaan pada blank cover slip.
  5. Ulangi (4) setelah 10 – 15 detik lewat dan kemudian kesampingkan glass cover slip.
  6. Untuk kontrol darah, ambil setetes darah (sekitar 35 µL) di atas glass cover slip yang bersih dengan menekan botol. Campurkan tetesan darah dengan ujung botol. Pindahkan tutup botol.
  7. Tekan tombol “MEASURE” dan catat pembacaan. Kesampingkan glass cover slip.
  8. Periksa kontrol-kontrol darah pada permukaan dan akhir setiap hari, atau setelah 50 pengujiaan yang bisa diterapkan. Nilai kontrol rendah, medium dan tinggi harus ada dalam harga yang dinyatakan.

Perhitungan hasil

Konsentrasi zink protoporphyrin yang dinyatakan dalam µmol/L RBX’s dapat dihitung menggunakan rumus berikut, yang dalam hal ini hematokrit dinyatakan sebagai fraksi volume dari paket sel darah merah:

Konsentrasi zink protoporphyrin juga dapat dinyatakan dalam µg/dL darah penuh: faktor konversi pada satuan SI (mmol/L) = x 0,0177.

6. Serum ferritin (SF)

Untuk menilai status besi dalam hati perlu mengukur kadar ferritin. Menurut cook (dalam Mahdin anwar husaini, 1989) banyak ferritin yang dikeluarkan ke dalam darah secara proporsional menggambarkan banyaknya simpanan zat besi di dalam hati. Apabila didapatkan serum ferritin sebesar 30 mg/dl RBC berarti di dalam hati terdapat 30 x 10 mg = 300 mg ferritin. Untuk menentukan kadar ferritin dalam darah dapat dilakukan dengan beberapa metode, yaitu dengan cara immunoradiometric assay (IRMA) atau dengan radio immuno assay (RIA) atau dengan cara enzyme-linked immuno assays (ELISA) yang tidak menggunakan isotop, tetapi enzim. Dalam keadaan normal rata-rata SF untuk laki-laki dewasa adalah 90 µg/l. perbedaan kadar serum ferritin ini menggambarkan perbedaan banyaknya perbedaan zat besi pada tubuh dengan zat besi pada laki-laki tiga kali lebih banyak dari wanita. Apabila seseorang mempunyai kadar SF kurang dari 12 orang yang bersangkutan dinyatakan sebagai kurang besi. Banyak orang yang sebenarnya menderita kurang besi, tetapi tidak dapat terdeteksi dengan cara ferritin karena kadar ferritin yang dikeluarkan dari hati menarik dalam darah apabila  yang bersangkutan  menderita penyakit kronis, infeksi dan sakit hati. Namun, apabila penyakit infeksi tidak umum terjadi di masyarakat, penentuan ferritin merupakan pilihan yang tepat.

PENILAIAN STATUS PROTEIN

Protein dalam darah mempunyai peranan fisiologis yang penting bagi tubuh antara lain:

–       Untuk mengatur tekanan air, dengan adanya tekanan osmose dari plasma protein.

–       Sebagai cadangan protein tubuh.

–       Untuk mengontrol peredaran darah (terutama dari fibrinogen).

–       Sebagai transport yang penting untuk zat-zat gizi tertentu.

–       Sebagai antibodi dari berbagai penyakit terutama dari gamma globulin.

–       Untuk mengatur aliran darah, dalam membantu bekerjanya jantung.

Di dalam darah ada 3 fraksi protein yaitu:

–       Albumin           : kadar normalnya = 3,5 – 5 gram/100 ml

–       Globulin           : kadar normalnya = 1,5 – 3 gram/100 ml

–       Fibrinogen       : kadar normalnya = 0,2 – 0,6 gram/100 ml

Pemeriksaan biokimia terhadap status protein dibagi dalam 2 pokok, yaitu penilaian terhadap somatic protein dan visceral protein. Perbandingan somatic dan visceral dalam tubuh antara 75% dan 25%. Somatic protein terdapat pada otot skeletal, sedangkan visceral protein terdapat di dalam organ/visceral tubuh yaitu hati, ginjal, pankreas, jantung, erytrocyt, granulocyt dan lympocyt.

Konsentrasi serum protein dapat digunakan untuk mengukur status protein. Penggunaan pengukuran status protein ini didasarkan pada asumsi bahwa penurunan serum protein disebabkan oleh penurunan produksi dalam hati. Penentuan serum protein dalam tubuh meliputi: albumin, transferrin, prealbumin (yang dikenal juga dengan trasthyeritin dan thyroxine-binding prealbumin), retin ol binding protein (RBP), insulin-Like growth factor-1 dan fibronectin.

  1. Prosedur penentuan serum protein

Ion kupri (Cu2+) dalam reagen biuret bereaksi dengan peptida (-CONH) dan menghasilkan sen yawa peptida berwarna violet. Intensitas warna secara langsung proporsional denga jumlah peptida pada pengukuran dengan kisaran yang luas. Senyawa ini dibentuk hanya jika paling sedikit ada dua gabungan peptida (-CONH). Akibatnya protein bereaksi dengan reagen beuret, sedangkan asam amino, ammonia, urea dan senyawa lain berisi nitrogen sederhana tidak bereaksi. (Peters dan Biamente, 1982).

  1. Berilah label setiap tabung uji, yaitu standar, referensi, pool dan setiap subjek uji.
  2. Tambahkan 3,0 ml reagen biuret pada setiap tabung.
  3. Pada tabung standar, tambahkan 50 µl larutan standar; pada tabung referensi tambahkan 50 µL serum referensi; pada tabung pool tambahkan 50 µL serum pool; pada masing-masing subjek tambahkan dengan 50 µL serum uji.
  4. Campurkan setiap tabung secara merata, dan biarkan dalam lemari gelap pada posisi berdiri minimal 10 menit.
  5. Tempatkan spectrophometer pada panjang gelombang 555 nm. Aturlah pada titik nol dengan menggunakan cuvet reagen biuret sebagai referensi kosong.
  6. Pindahkan masing-masing isi tabung pada cuvet.
  7. Baca dan catat penyerapan sampel standar, referensi dan pool.

PENILAIAN STATUS VITAMIN

Penilaian status vitamin yang terkait dengan penetuan status gizi meliputi penentuan kadar vitamin A, vitamin D, vitamin E, vitamin C, tiamin, riboflavin, niasin, vitamin B6, vitamin B12.

1.  Vitamin A

Deplasi vitamin A dalam tubuh merupakan proses yang berlangsung lama, dimulai dengan habisnya persediaan vitamin A dalam hati, kemudian menurunya kadar vitamin A plasma, dan baru kemudian timbul disfungsi retina, disusul dengan perubahan jaringan epitel.

Kadar vitamin A dalam plasma tidak merupakan kekurangan vitamin A yang dini, sebab deplesi terjadi jauh sebelumnya. Apabila sudah terdapat kelainan mata, maka kadar vitamin A serum sudah sangat rendah (kurang dari 5 µg/100 ml), begitu juga kabar RBP-nya (<20 µg/100 ml) konsentrasi vitamin A dalam hati merupakan indikasi yang baik untuk menentukan status vitamin A. Akan tetapi, biopsi hati merupakan tindakan yang mengandung resiko bahaya. Di samping itu, penentuan kadar vitamin A jaringan tidak mudah dilakukan.

Pada umumnya konsentrasi vitamin A penderita KEP rendah yaitu <15 µg/gram jaringan hepar (Solihin Pujiadji, 1989).

Tabel 6-1. Batasan dan interpretasi pemeriksaan kadar vitamin A dalam darah

Umur (th) Kurang Margin Cukup
Plasma vitamin A (mg) Semua umur <10 10-19>20

Metode penentuan serum retinol

Cara HPLC (High Performance Liquid Choromatography)

Prinsip:

Retinol dan standar retinil asetat yang ditambahkan dengan pelarut organik setelah protein serum didenaturasi. Dengan sistem fase berputar (revers phase) kedua protein tersebut dipisahkan dan diukur serapannya pada panjang gelombang 328 nm dengan HPLC. Konsentrasi retinol dalam serum dapat dihitung dari perbandingan puncak grafik retinol-asetat.

Prosedur :

  1. Seratus mikroliter palsma dimasukan ke dalam tabung mikro ditambah 100 mikroliter etanol yang berisi standar retinil acetat (konsentrasi setara dengan 20 µg retinil/dl) dan 200 mikroliter heksan.
  2. Kemudian dikocok dengan vortex selama 1 menit.
  3. Setelah disentifugasi dengan kecepatan 3000 rpm selama 5 menit lapisan heksan yang berisi ekstrak vitamin A dipipet sebanyak 150 µl.
  4. Ekstrak ini kemudian diuapkan dengan pertolongan gas nitrogen sampai kering.
  5. Ekstrak yang sudah kering kemudian ditambah 100 mikroliter isoprepanol, kemudian dikocok dan sebanyak 50 mikroliter disuntikan ke HPLC, dengan spesifikasi sebagai berikut.

Kolom                                            : bondapak C18

Buffer (solvent)                             : metanol/air, (95/5, perbandingan volume)

Kecepatan aliran                           : 2,5 ml/menit

Tekanan                                        : disesuaikan kecepatan aliran tersebut

Panjang gelombang detektor        : 328 nm

Sensitivitas detektor                      : 0,01 AUFS

Suhu                                              : kamar

Kecepatan rekoder                       : 1 cm/menit

Munculnya grafik                          : retinol 2,2 menit

Retynil acetat 3,0 menit

Perhitungan                                   : konsentrasi retinol dalam serum

Catatan:

–       Semua tabung reaksi yang digunakan harus benar-benar bersih. Untuk mencapai ini semua tabung-tabung harus direndam dalam nitrat atau pun kromat selama 3 hari.

–       Berdasarkan pengalaman, setiap 4-5 kali penyuntikan pada HPLC kolom perlu dicuci dengan dialiri buffer tanpa sampel selama sekitar 30 menit.

–       Bila ada dugaan kadar vitamin A dalam serum agak tinggi (misalnya serum orang dewasa normal, anak yang baru saja diberi vitamin A dosis tinggi) serum yang digunakan 50 µl saja.

Pengalaman di puslitbang gizi bogor selama ini semua kolom yang sudah digunakan untuk penentuan sekitar 250 sampel sudah tidak bisa digunakan lagi. Hal ini mungkin terkait dengan kualitas pereaksi yang ada di Indonesia.

–       Penentuan kadar vitamin A cara kolorimeter dengan pereaksi trifluoroasetat/TFA (neeld & pearson)

Prinsip:

Setelah protein didenaturasi dengan alkohol, vitamin A diextraksi dengan pelarut organik. Extrak dipisahkan dan vitamin A ditentukan dengan direaksikan dengan TFA dan warna biru yang terbentuk diukur serapanya pada panjang 620 nm. Karena karotin juga memberikan reaksi dengan TFA, meskipun juga lebih lemah, perlu ada faktor koreksi karena ada pengaruh dari karotin ini.

Cara  kerja (semi mikro)

  1. Lima ratus mikroliter serum dalam tabung reaksi ditambah dengan 500 mikroliter etanol (atau dapat pula 1N KOH dalam 90% etanol).
  2. Dikocok dengan tangan sampai rata. Ditambahkan 1000 mikroliter ( = 1 ml) petroleum eter (40-60 ºC) lalu dikocok dengan voltrex selama 1 menit.
  3. Sentrifugasi pada kecepatan 3000 rpm selama 5-10 menit akan memisahkan extarak vitamin A di bagian atas serta campuran serum alkohol di bagian bawah.
  4. Extrak dipipet sebanyak 750 mikroliter lalu diukur serapannya pada panjang gelombang 450 nm untuk penentuan karotin.
  5. Extrak tersebut kemudian diuapkan samapai kering dengan gas nitrogen. Ditambah dengan 1500 mikrolier pereaksi TFA (campuran 1 bagian TFA dan 2 bagian kloroform yang disiapkan segar).
  6. Warna biru yang terbentuk harus sudah diukur serapannya dalam waktu  30 detik pada panjang gelombang 620 nm.

Standar vitamin A yang dilarutkan dalam kloroform da berisi 2 mg/ml, 4 mg/ml, dan 8 mg/ml disiapkan. Dipipet 25 ml dari masing-masing konsentrasi tersebut dan diukur serapanya setelah ditambah 1500 mikroliter pereaksi. Standar tersebut setara dengan konsentrasi vitamin A dalam serum 10 µg/dl, 20 µg/dl, 30 µg/dl dan 40 µg/dl.

Faktor koreksi karena pengaruh reaksi antara pereaksi dengan karotin dibuat sebagai berikut:

Disiapkan standar karotin yang berisi 10 µg/dl, 20 µg/dl, 40 µg/dl dan 80 µg/dl. Dipipet masing-masing sebanyak 750 mikroliter lalu diuapkan sampai kering dengan  nitrogen. Kemudian direaksikan dengan 155 mikroliter pereaksi dan serapannya diukur pada panjang gelombang 620 nm. Dengan demikian dapat dihitung faktor koreksi karena pengaruh karotin.

Pengalaman di puslitbang gizi bogor faktor koreksi pengaruh karotin ini sekitar 15% pembacaan karotin pada panjang gelombang 450 nm. Jika seandainya serapan karotin pada 459 nm adalah 0,100 maka pembacaan vitamin A pada 620 nm perlu dikurangi 15 % dari 0,100 baru kemudian dikurangi blangko.

Dengan demikian dalam buku catatan penentuan vitamin A ada 10 kolom seperti terlihat pada tabel 6-2.

Dari standar vitamin A dapat dihitung faktor perhitungan vitamin A dan dari standar karotin dapat dihitung faktor perhitungan karotin dengan prinsip :

Catatan:

–       Kecepatan pada pengukuran kecepatan pada panjang gelomabang 620 nm tergantung pada pengalaman petugas laboratorium. Kalau sudah berpengalaman waktu yang diperlukan semenjak penambahan pereaksi samapai pengukuran serapan sejumlah 22-23 detik.

–       Waktu melarutkan standar karotin mula-mula ditambah beberapa ml kloroform, baru kemudian ditambah PE sesuai tujuan. Bila langsung ditambah PE, sebagian karotin tidak larut.

–       Pada penentuan vitamin A dengan cara kolorometri ini adalah total vitamin A (retinol dan retinil ester), sedangkan dengan HPLC hanya ditambah PE sebagai karotin tidak larut.

–       Pada penentu vitamin A (retinol dan retinil ester), sedangkan dengan HPLC hanya retinol saja.

–       (suharjo, 1990. Penilaian Keadaan Gizi Masyarakat, hlm. 172-175)

  1. Vitamin D

Kekurangan vitamin ini dapat mengakibatkan penyakit rakhitis dan kadang-kadang tetani. Apabila kekurangan terjadi pada masa pertumbuhan akan timbul osteomalasia. Sangat jarang ditemukan rakitis bawaan, insiden tertinggi terdapat pada umur 18 tahun.

Kekurangan vitamin D timbul kalsifikasi tulang yang tidak normal disebabkan oleh karena rendahnya saturasi kalsium dan fosfor dalam cairan tubuh. Keadaan resorpsi tulang akan melebihi pembentukannya hingga menyebabkan demineralisasi umum pada rangka yang berakibat menjadi lunaknya tulang-tulang serta deformitas torax, tulang punggung, pelvis dan tulang-tulang panjang.

Beberapa zat yang berhubungan dengan aktivitas vitamin D adalah:

–       Vitamin D2 (ersokalsiferol) yang dihasilkan oleh radiasi ersoterol (dalam tumbuh-tumbuhan) secara artifisial dengan sinar ultraviolet.

–       Vitamin D3 (kolekalsiferol) yang dihasilkan oleh radiasi pada kulit manusia dengan komponen ultraviolet sinar matahari dan juga terdapat secara alamiah pada sumber makanan hewani. Kolekalsiferol dikonversi di dalam hati dan mungkin usus menjadi 25(OH) kolekalsiferon

Pada pemeriksaan biokimia penderita rakhitis ditemukan hasil:

  1. Kadar kalsium serum normal atau lebih
  2. Kadar fosfor rendah
  3. Kadar fosfatase meninggi
  4. Kadar 25 (OH) vitamin D dibawah 4 mg/ml
  5. Vitamin E

Devisit vitamin E jarang sekali ditemukan oleh sebab makanan sehari-hari mengandung cukup vitamin E. namun demikian kita harus tetap waspada adanya kemungkinan keadaan subklinis, misalnya pada bayi berat badan lahir rendah dimana transfer vitamin E melalui plasenta tidak efisien.

Gangguan yang dapat dilihat karena kekurangan vitamin E adalah hemolisis dan mengurangnya umur hidup eritrosit. Penelitian pada binatang percobaan didapatkan bahwa defisit vitaminE menyebabkan kemandulan baik pada jantan dan betina. Gangguan lain adalah distrofi otot dan kelainan saraf pusat (ensefalomalasia). Pada pemeriksaan biokimia seorang anak dikatakan memiliki nilai normal vitamin E bila di dalam serum ≥ 0,7 mg.

1 Komentar »

  1. bisa nggak dikasih daftar pustaka di bawahnya…coz itu penting bgt terutama untuk yang mau nulis2 karya ilmiah…jadi biar tahu sumbernya bro…^_^thanx

    Komentar oleh Ditya — Februari 3, 2010 @ 7:27 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: